Kisah ini menceritakan seorang tokoh yang bernama CINTA yang berjuang dan bertahan hidup untuk mencari cintanya. Pada akhirnya dia kalah dan tetap tak mengerti akan cintanya. Ternyata kekalahan akan cinta tidak hanya ada didalam benak khayalku saja. Tetapi memang dalam kehidupan nyata sejak dahulu kala ada. Anda tahu bagaimana Julis Caesar jatuh pada saat kejayaannya hanya karena mencintai seorang Cleopatra, atau cerita Napoleon Bonaparte… Ahhhh tak perlu aku ceritakan lagi itu. Sudah banyak diceritakan dan kebenarannya diragukan. Aku punya cerita nyata tentang hal itu, berdasar biografi seorang tokoh hebat dan terkenal.
Ada seorang jenius dan sukses. Namanya David William McCall. Dia pendiri McCall International, perusahaan yang bergerak di bidang telekomunikasi, hardware dan software, rancang bangun komputer serta bidang usaha sejenisnya. Perusahaannya biasa disingkat MCI, “Pernah dengar atau tahu?”. Dibidang software saingannya hanya Linux dan dibidang rancang bangun (bulid up) komputer saingannya hanya IBM. Saat itu belum ada Personal Computer, Compaq dan Hawlett Packard dibawah mereka. Penghasilan mereka 700 juta US dollar pertahun, hampir sama dengan Onassis. Bayangkan seberapa kaya dia, dalam usia muda, 30 tahunan sudah sekaya dan sesukses itu.
Tapi William adalah penganut paham antikemapanan. Dia benci pemerintahan yang korup dan kotor, tidak suka hidup mewah, ingin menghilangkan kemiskinan dan hanya ingin hidup sederhana. Hampir mirip dengan kaum sufi. Atau bisa dibilang juga, aku mirip dia. He..he..he.. William pernah pergi dari kemapanan. Pada usia 21 tahun, setelah menyelesaikan kuliahnya jurusan kedokteran di Harvard University, William menghilangdikarenakan hanya bapaknya, Nathan McCall, seorang yang cukup berpengaruh. Akhirnya William ditemukan 3 tahun kemudian dipedalaman Afrika. Dia mengabdikan ilmu kedokterannya pada kaum primitif dan di sana tidak mengenal uang dan peradaban sama sekali. Hebat juga Tuan muda William ini. Dia kembali kekemapanan yang sebenarnya dia benci. Sekembalinya, William kuliah lagi di MIT. Pada usia 28 tahun dia lulus dan mendirikan perusahaan McCall Int. Baru usia 32 tahun dia jatuh cinta dan menikahi seorang wanita yang sebenarnya hanya mencintai hartanya. William tidakmengerti cinta. Dia mudah dikibuli dan dikelabuhi istrinya yang sebenarnya mencintai pemuda pegawai William. Anda tahu siapa nama pemuda tersebut?….. BILL GATE. Usia perkawinannya sangat singkat hanya sekitar 1 tahun. Saat dia pulang dari luar negeri dan menuju rumah mewahnya dibukit, William menemukan istrinya sedang bercumbu dengan pemuda itu. Dengan kecewa William pergi lagi sendirian tanpa sepengetahuan istrinya yang sedang asyik bermain cinta tersebut. Dia membuang mobil mewah yang biasa dipakai itu kejurang dan melanjutkan dengan jalan kaki dengan langkah gontai dan tak tahu kemana arah tujuannya serta dengan hati yang terasa disayat sembilu. Karenamobilnya ditemukan didasar jurang, William dinyatakan meninggal dalam kecelakaan.Karena tidak meninggalkan surat wasiat apapun, istrinya bisa menguasai semua harta dan perusahaannya. MCI kacau balau, perusahaan itu terpecah. Bill Gate bersama pendukungnya mendirikan perusahaan sejenis dengan nama Microsoft dan mengeluarkan basic application program yang anda kenal dengan merk Windows. Bersama musuh besar MCI, IBM.. Microsoft mengeluarkan personal Computer yang sekarang ada didepan Anda. Tak lama kemudian mengeluarkan beberapa software. Tapi hanya menguasai pasar di Asia. Sementara sisanya dikuasai oleh perusahaan yang didirikan orang-orang MCI, yang percaya bahwa William masih hidup dan mereka mengabdi padanya.
Anda tahu cerita rakyat Amerika “Tragedi buah Apel”, maka Apple dijadikan nama danlambang perusahaan itu. Sekarang, dengan BAP “Macintosh”, Aplle mulai bergerak dan menyaingi Microsoft di pasar Asia. Anda lihat sekarang banyak perusahaan besar di Indonesia menggunakan Apple Macintosh, bukannya Microsoft Windows. Sementara pegawai MCI yang netral memisahkan diri dan membuat perusahaan software. Terpecah menjadi tiga yaitu Adobe, Aldust dan Corel. Karena netral mereka membuat sofware dalam dua versi, versi Windows dan versi Macintosh. Tapi akhirnya Aldust bangkrut danmerger dengan Adobe.
Bill Gate memang merebut segalanya dari William, istri, harta dan perusahaannya. Tapi secara hukum, Bill Gate tak bisa disalahkan. Bill gate juga mencuri rumusan Microchip Processor ciptaan William yang ditemukan dibekas ruang kerja William. Akhirnya Bill Gatelah yang memegang hak cipta Processor, terutama di Intel dengan Pentium-nya.Hanya tinggal divisi telekomunikasi yang masih ada di MCI yang dipimpin oleh adik William. Produk alat komunikasi andalannya ada diseluruh pelosaok dunia. Anda pasti tahu!. Itu lohhh… MOTOROLA.
Tujuh tahun kemudian, David William McCall dinyatakan masih hidup. William ditemukan sebagai gelandangan (tunawisma) di kota San Fransisco. William kembali pada kemewahan, namun sekarang diawasi tim dokter karena kesehatan fisik dan jiwanya terganggu. Entah alasan apa, mungkin karena jenuh dengan segala kemewahan atau karena tahu istrinya tidak mencintai dia. William bunuh diri pada usia 47 tahun. Sangat tragis………
Ada seorang penulis yang tertarik pada kisah hidup William. Penulis pintar dan serba bisa ini mewawancarai orang-orang yang pernah mengenal atau berada dalam lingkungan William, serta mengumpulkan data-data yang bisa mendukung tulisannya. Akhirnya keluarlah buku biografi William. Sayang buku tersebut dilarang terbit setelah 1 tahun beredar dipasaran. Setahun kemudian penulis itu mati ditembak. Anda tahu beritanya?,seorang penulis dan juga astronom yang ditembak tepat dikepalanya hanya beberapa meter dari rumahnya. Penembakan itu tidak terungkap dan terorislah yang dituduh.
Orang-orang Eropa dan Amerika yang pernah membaca biografi William, dan sebagian kecil orang Asia yang tahu cerita ini, pasti akan membenci Bill Gate. Walaupun Bill Gate tidak sebegitu bersalah. Makanya kenapa produk-produk Microsoft tidak pernah sukses dipasar Eropa dan dipasar Amerika. Makanya juga banyak peretas (Hackers) berusaha mengacau dan menjebol Microsoft, terus mengungkap kekurangan dan kelemahan produk Microsoft. Pernah juga cerita ini difilmkan. Tapi cerita sedikit diubah. Menyembunyikan beberapa fakta dan hal yang mungkin membahayakan film itu sendiri. Atau mungkin pembuat film takut dibunuh seperti yang terjadi pada penulis itu.
Bayangkan…. Begitu tragisnya nasib Tuan William ini. Dia HEBAT, SUKSES dan MENANG DALAM KEHIDUPAN. Tetapi semua hilang sekejap hanya karena dia mencintai seorang wanita. Memang tidak semua kisah cerita berakhir tragis. Masih ada cerita Romeo dan Juliet yang akhirnya bahagia dalam cinta yang indah. Atau cerita tentang Cinderella dengan sepatu kacanya. Tapi sayang, itu hanya cerita khayalan dari penulis legendaris. Lalu pertanyaan dibenakku… Apakah yang namanya CINTA itu benar-benar ada dan nyata dalam hidup kita sebagai manusia? Apakah rasa sayang terhadap orang tua, saudara, teman, anak, istri, sahabat, famili serta rasa kasih terhadap diri sendiri, lingkungan dimana kita hidup….. itu juga dinamakan dengan Cinta? Aku benar-benar tak mengerti.
Jika anda tahu, tolonglah aku dan berikan jawaban logis agar aku bisa mengerti. Karena yang aku tahu selama ini Cinta hanya ada dalam benak penulis novel, sastrawan, penulis skenario dan penyair. Aku melihat cinta hanya ada didalam novel, cerita sastra, panggung drama, film dan sinetron, atau lirik sebuah lagu. Mungkinkah sangat kompleksnya cintasehingga tidak bisa didefinisikan. Setiap orang didunia punya pengertian dan definisi masing-masing tentang kata “CINTA”. Ahhhhhh…. gak usah terlalu anda pikirkanlah. Itu hanya ungkapan kegelisahanku saja. Orang-orang sehebat Julius Caesar, Napoleon Bonaparte, atau yang barusan aku ceritakan tuan David William McCall saja tidak mengerti tentang cinta. Bahkan mereka gagal hingga menghancurkan hidupnya,…. apalagiorang setolol aku, mana mungkin mengerti CINTA.
Kamis, 13 Maret 2008
Kisah Cinta Sejati
Alkisah, seorang kepala suku Bani Umar di Jazirah Arab memiIiki segala macam yang diinginkan orang, kecuali satu hal bahwa ia tak punya seorang anakpun. Tabib-tabib di desa itu menganjurkan berbagai macam ramuan dan obat, tetapi tidak berhasil. Ketika semua usaha tampak tak berhasil, istrinya menyarankan agar mereka berdua bersujud di hadapan Tuhan dan dengan tulus memohon kepada Allah swt memberikan anugerah kepada mereka berdua. “Mengapa tidak?” jawab sang kepala suku. “Kita telah mencoba berbagai macam cara. Mari, kita coba sekali lagi, tak ada ruginya.”
Mereka pun bersujud kepada Tuhan, sambil berurai air mata dari relung hati mereka yang terluka. “Wahai Segala Kekasih, jangan biarkan pohon kami tak berbuah. Izinkan kami merasakan manisnya menimang anak dalam pelukan kami. Anugerahkan kepada kami tanggung jawab untuk membesarkan seorang manusia yang baik. Berikan kesempatan kepada kami untuk membuat-Mu bangga akan anak kami.”
Tak lama kemudian, doa mereka dikabulkan, dan Tuhan menganugerahi mereka seorang anak laki-laki yang diberi nama Qais. Sang ayah sangat berbahagia, sebab Qais dicintai oleh semua orang. Ia tampan, bermata besar, dan berambut hitam, yang menjadi pusat perhatian dan kekaguman. Sejak awal, Qais telahmemperlihatkan kecerdasan dan kemampuan fisik istimewa. Ia punya bakat luar biasa dalam mempelajari seni berperang dan memainkan musik, menggubah syair dan melukis.
Ketika sudah cukup umur untuk masuk sekolah, ayahnya memutuskan membangun sebuah sekolah yang indah dengan guru-guru terbaik di Arab yang mengajar di sana , dan hanya beberapa anak saja yang belajar di situ. Anak-anak lelaki dan perempuan dan keluarga terpandang di seluruh jazirah Arab belajar di sekolah baru ini.
Di antara mereka ada seorang anak perempuan dari kepala suku tetangga. Seorang gadis bermata indah, yang memiliki kecantikan luar biasa. Rambut dan matanya sehitam malam; karena alasan inilah mereka menyebutnya Laila-”Sang Malam”. Meski ia baru berusia dua belas tahun, sudah banyak pria melamarnya untuk dinikahi, sebab-sebagaimana lazimnya kebiasaan di zaman itu, gadis-gadis sering dilamar pada usia yang masih sangat muda, yakni sembilan tahun.
Laila dan Qais adalah teman sekelas. Sejak hari pertama masuk sekolah, mereka sudah saling tertarik satu sama lain. Seiring dengan berlalunya waktu, percikan ketertarikan ini makin lama menjadi api cinta yang membara. Bagi mereka berdua, sekolah bukan lagi tempat belajar. Kini, sekolah menjadi tempat mereka saling bertemu. Ketika guru sedang mengajar, mereka saling berpandangan. Ketika tibawaktunya menulis pelajaran, mereka justru saling menulis namanya di atas kertas. Bagi mereka berdua, tak ada teman atau kesenangan lainnya. Dunia kini hanyalah milik Qais dan Laila.
Mereka buta dan tuli pada yang lainnya. Sedikit demi sedikit, orang-orang mulai mengetahui cinta mereka, dan gunjingan-gunjingan pun mulai terdengar. Di zaman itu, tidaklah pantas seorang gadis dikenal sebagai sasaran cinta seseorang dan sudah pasti mereka tidak akan menanggapinya. Ketika orang-tua Laila mendengar bisik-bisik tentang anak gadis mereka, mereka pun melarangnya pergi ke sekolah. Mereka tak sanggup lagi menahan beban malu pada masyarakat sekitar.
Ketika Laila tidak ada di ruang kelas, Qais menjadi sangat gelisah sehingga ia meninggalkan sekolah dan menyelusuri jalan-jalan untuk mencari kekasihnya dengan memanggil-manggil namanya. Ia menggubah syair untuknya dan membacakannya di jalan-jalan. Ia hanya berbicara tentang Laila dan tidak juga menjawab pertanyaan orang-orang kecuali bila mereka bertanya tentang Laila. Orang-orang pun tertawa dan berkata, ” Lihatlah Qais , ia sekarang telah menjadi seorang majnun, gila!”
Akhirnya, Qais dikenal dengan nama ini, yakni “Majnun”. Melihat orang-orang dan mendengarkan mereka berbicara membuat Majnun tidak tahan. Ia hanya ingin melihat dan berjumpa dengan Laila kekasihnya. Ia tahu bahwa Laila telah dipingit oleh orang tuanya di rumah, yang dengan bijaksana menyadari bahwa jika Laila dibiarkan bebas bepergian, ia pasti akan menjumpai Majnun. Majnun menemukan sebuah tempat di puncak bukit dekat desa Laila dan membangun sebuah gubuk untuk dirinya yang menghadap rumah Laila. Sepanjang hari Majnunduduk-duduk di depan gubuknya, disamping sungai kecil berkelok yang mengalir ke bawah menuju desa itu. Ia berbicara kepada air, menghanyutkan dedaunan bunga liar, dan Majnun merasa yakin bahwa sungai itu akan menyampaikan pesan cintanya kepada Laila. Ia menyapa burung-burung dan meminta mereka untuk terbang kepada Laila serta memberitahunya bahwa ia dekat.
Ia menghirup angin dari barat yang melewati desa Laila. Jika kebetulan ada seekor anjing tersesat yang berasal dari desa Laila, ia pun memberinya makan dan merawatnya, mencintainya seolah-olah anjing suci, menghormatinya dan menjaganya sampai tiba saatnya anjing itu pergi jika memang mau demikian. Segala sesuatu yang berasal dari tempat kekasihnya dikasihi dan disayangi sama seperti kekasihnya sendiri.
Bulan demi bulan berlalu dan Majnun tidak menemukan jejak Laila. Kerinduannya kepada Laila demikian besar sehingga ia merasa tidak bisa hidup sehari pun tanpa melihatnya kembali. Terkadang sahabat-sahabatnya di sekolah dulu datang mengunjunginya, tetapi ia berbicara kepada mereka hanya tentang Laila, tentang betapa ia sangat kehilangan dirinya.
Suatu hari, tiga anak laki-laki, sahabatnya yang datang mengunjunginya demikian terharu oleh penderitaan dan kepedihan Majnun sehingga mereka bertekad embantunya untuk berjumpa kembali dengan Laila. Rencana mereka sangat cerdik. Esoknya, mereka dan Majnun mendekati rumah Laila dengan menyamar sebagai wanita. Dengan mudah mereka melewati wanita-wanita pembantu dirumah Laila dan berhasil masuk ke pintu kamarnya.
Majnun masuk ke kamar, sementara yang lain berada di luar berjaga-jaga. Sejak ia berhenti masuk sekolah, Laila tidak melakukan apapun kecuali memikirkan Qais. Yang cukup mengherankan, setiap kali ia mendengar burung-burung berkicau dari jendela atau angin berhembus semilir, ia memejamkan.matanya sembari membayangkan bahwa ia mendengar suara Qais didalamnya. Ia akan mengambil dedaunan dan bunga yang dibawa oleh angin atau sungai dan tahu bahwa semuanya itu berasal dari Qais. Hanya saja, ia tak pernah berbicara kepada siapa pun, bahkan juga kepada sahabat-sahabat terbaiknya, tentang cintanya.
Pada hari ketika Majnun masuk ke kamar Laila, ia merasakan kehadiran dan kedatangannya. Ia mengenakan pakaian sutra yang sangat bagus dan indah. Rambutnya dibiarkan lepas tergerai dan disisir dengan rapi di sekitar bahunya. Matanya diberi celak hitam, sebagaimana kebiasaan wanita Arab, dengan bedak hitam yang disebut surmeh. Bibirnya diberi lipstick merah, dan pipinya yang kemerah-merahan tampak menyala serta menampakkan kegembiraannya. Ia duduk di depan pintu dan menunggu.
Ketika Majnun masuk, Laila tetap duduk. Sekalipun sudah diberitahu bahwa Majnun akan datang, ia tidak percaya bahwa pertemuan itu benar-benar terjadi.Majnun berdiri di pintu selama beberapa menit, memandangi, sepuas-puasnya wajahLaila. Akhirnya, mereka bersama lagi! Tak terdengar sepatah kata pun, kecualidetak jantung kedua orang yang dimabuk cinta ini. Mereka saling berpandangan danlupa waktu.
Salah seorang wanita pembantu di rumah itu melihat sahabat-sahabat Majnun diluar kamar tuan putrinya. Ia mulai curiga dan memberi isyarat kepada salahseorang pengawal. Namun, ketika ibu Laila datang menyelidiki, Majnun dankawan-kawannya sudah jauh pergi. Sesudah orang-tuanya bertanya kepada Laila,maka tidak sulit bagi mereka mengetahui apa yang telah terjadi. Kebisuan dankebahagiaan yang terpancar dimatanya menceritakan segala sesuatunya.
Sesudah terjadi peristiwa itu, ayah Laila menempatkan para pengawal di setiappintu di rumahnya. Tidak ada jalan lain bagi Majnun untuk menghampiri rumahLaila, bahkandari kejauhan sekalipun. Akan tetapi jika ayahnya berpikiran bahwa, denganbertindak hati-hati ini ia bisa mengubah perasaan Laila dan Majnun, satu samalain, sungguh ia salah besar.
Ketika ayah Majnun tahu tentang peristiwa di rumah Laila, ia memutuskan untukmengakhiri drama itu dengan melamar Laila untuk anaknya. Ia menyiapkan sebuahkafilah penuh dengan hadiah dan mengirimkannya ke desa Laila. Sang tamu pundisambut dengan sangat baik, dan kedua kepala suku itu berbincang-bincangtentang kebahagiaan anak-anak mereka. Ayah Majnun lebih dulu berkata, “Engkautahu benar, kawan, bahwa ada dua hal yang sangat penting bagi kebahagiaan, yaitu“Cinta dan Kekayaan”.
Anak lelakiku mencintai anak perempuanmu, dan aku bisa memastikan bahwa akusanggup memberi mereka cukup banyak uang untuk mengarungi kehidupan yang bahagiadan menyenangkan. Mendengar hal itu, ayah Laila pun menjawab, “Bukannya akumenolak Qais. Aku percaya kepadamu, sebab engkau pastilah seorang mulia danterhormat,” jawab ayah Laila. “Akan tetapi, engkau tidak bisa menyalahkankukalau aku berhati-hati dengan anakmu. Semua orang tahu perilaku abnormalnya.Ia berpakaian seperti seorang pengemis. Ia pasti sudah lama tidak mandi daniapun hidup bersama hewan-hewan dan menjauhi orang banyak. “Tolong katakankawan, jika engkau punya anak perempuan dan engkau berada dalam posisiku,akankah engkau memberikan anak perempuanmu kepada anakku?”
Ayah Qais tak dapat membantah. Apa yang bisa dikatakannya? Padahal, duluanaknya adalah teladan utama bagi kawan-kawan sebayanya? Dahulu Qais adalah anakyang paling cerdas dan berbakat di seantero Arab? Tentu saja, tidak ada yangdapat dikatakannya. Bahkan, sang ayahnya sendiri susah untuk mempercayainya.Sudah lama orang tidak mendengar ucapan bermakna dari Majnun. “Aku tidak akandiam berpangku tangan dan melihat anakku menghancurkan dirinya sendiri,”pikirnya. “Aku harus melakukan sesuatu.”
Ketika ayah Majnun kembali pulang, ia menjemput anaknya, Ia mengadakan pestamakan malam untuk menghormati anaknya. Dalam jamuan pesta makan malam itu,gadis-gadis tercantik di seluruh negeri pun diundang. Mereka pasti bisamengalihkan perhatian Majnun dari Laila, pikir ayahnya. Di pesta itu, Majnundiam dan tidak mempedulikan tamu-tamu lainnya. Ia duduk di sebuah sudut ruangansambil melihat gadis-gadis itu hanya untuk mencari pada diri mereka berbagaikesamaan dengan yang dimiliki Laila.
Seorang gadis mengenakan pakaian yang sama dengan milik Laila; yang lainnyapunya rambut panjang seperti Laila, dan yang lainnya lagi punya senyum miripLaila. Namun, tak ada seorang gadis pun yang benar-benar mirip dengannya,Malahan, tak ada seorang pun yang memiliki separuh kecantikan Laila. Pesta ituhanya menambah kepedihan perasaan Majnun saja kepada kekasihnya. Ia pun berangdan marah serta menyalahkan setiap orang di pesta itu lantaran berusahamengelabuinya.
Dengan berurai air mata, Majnun menuduh orang-tuanya dan sahabat-sahabatnyasebagai berlaku kasar dan kejam kepadanya. Ia menangis sedemikian hebat hinggaakhirnya jatuh ke lantai dalam keadaan pingsan. Sesudah terjadi petaka ini,ayahnya memutuskan agar Qais dikirim untuk menunaikan ibadah haji ke Mekahdengan harapan bahwa Allah akan merahmatinya dan membebaskannya dari cinta yangmenghancurkan ini.
Di Makkah, untuk menyenangkan ayahnya, Majnun bersujud di depan altar Kabah,tetapi apa yang ia mohonkan? “Wahai Yang Maha Pengasih, Raja Diraja ParaPecinta, Engkau yang menganugerahkan cinta, aku hanya mohon kepada-Mu satu halsaja,”Tinggikanlah cintaku sedemikian rupa sehingga, sekalipun aku binasa,cintaku dan kekasihku tetap hidup.” Ayahnya kemudian tahu bahwa tak ada lagiyang bisa ia lakukan untuk anaknya.
Usai menunaikan ibadah haji, Majnun yang tidak mau lagi bergaul dengan orangbanyak di desanya, pergi ke pegunungan tanpa memberitahu di mana ia berada. Iatidak kembali ke gubuknya. Alih-alih tinggal dirumah, ia memilih tinggaldireruntuhan sebuah bangunan tua yang terasing dari masyarakat dan tinggaldidalamnya. Sesudah itu, tak ada seorang pun yang mendengar kabar tentangMajnun. Orang-tuanya mengirim segenap sahabat dan keluarganya untuk mencarinya.Namun, tak seorang pun berhasil menemukannya. Banyak orang berkesimpulan bahwaMajnun dibunuh oleh binatang-binatang gurun sahara. Ia bagai hilang ditelanbumi.
Suatu hari, seorang musafir melewati reruntuhan bangunan itu dan melihat adasesosok aneh yang duduk di salah sebuah tembok yang hancur. Seorang liar denganrambut panjang hingga ke bahu, jenggotnya panjang dan acak-acakan, bajunyacompang-camping dan kumal. Ketika sang musafir mengucapkan salam dan tidakberoleh jawaban, ia mendekatinya. Ia melihat ada seekor serigala tidur dikakinya. “Hus” katanya, ‘Jangan bangunkan sahabatku.” Kemudian, ia mengedarkanpandangan ke arah kejauhan.
Sang musafir pun duduk di situ dengan tenang. Ia menunggu dan ingin tahu apayang akan terjadi. Akhimya, orang liar itu berbicara. Segera saja ia pun tahubahwa ini adalah Majnun yang terkenal itu, yang berbagai macam perilaku anehnyadibicarakan orang di seluruh jazirah Arab. Tampaknya, Majnun tidak kesulitanmenyesuaikan diri dengan kehidupan dengan binatang-binatang buas dan liar. Dalamkenyataannya, ia sudah menyesuaikan diri dengan sangat baik sehinggalumrah-lumrah saja melihat dirinya sebagai bagian dari kehidupan liar dan buasitu.
Berbagai macam binatang tertarik kepadanya, karena secara naluri mengetahuibahwa Majnun tidak akan mencelakakan mereka. Bahkan, binatang-binatang buasseperti serigala sekalipun percaya pada kebaikan dan kasih sayang Majnun. Sangmusafir itu mendengarkan Majnun melantunkan berbagai kidung pujiannya padaLaila. Mereka berbagi sepotong roti yang diberikan olehnya. Kemudian, sangmusafir itu pergi dan melanjutkan petjalanannya.
Ketika tiba di desa Majnun, ia menuturkan kisahnya pada orang-orang. Akhimya,sang kepala suku, ayah Majnun, mendengar berita itu. Ia mengundang sang musafirke rumahnya dan meminta keteransran rinci darinya. Merasa sangat gembira danbahagia bahwa Majnun masih hidup, ayahnya pergi ke gurun sahara untukmenjemputnya.
Ketika melihat reruntuhan bangunan yang dilukiskan oleh sang musafir itu, ayahMajnun dicekam oleh emosi dan kesedihan yang luar biasa. Betapa tidak! Anaknyaterjerembab dalam keadaan mengenaskan seperti ini. “Ya Tuhanku, aku mohon agarEngkau menyelamatkan anakku dan mengembalikannya ke keluarga kami,” jerit sangayah menyayat hati. Majnun mendengar doa ayahnya dan segera keluar dari tempatpersembunyiannya. Dengan bersimpuh dibawah kaki ayahnya, ia pun menangis, “Wahaiayah, ampunilah aku atas segala kepedihan yang kutimbulkan pada dirimu. Tolonglupakan bahwa engkau pernah mempunyai seorang anak, sebab ini akan meringankanbeban kesedihan ayah. Ini sudah nasibku mencinta, dan hidup hanya untukmencinta.” Ayah dan anak pun saling berpelukan dan menangis. Inilah pertemuanterakhir mereka.
Keluarga Laila menyalahkan ayah Laila lantaran salah dan gagal menanganisituasi putrinya. Mereka yakin bahwa peristiwa itu telah mempermalukan seluruhkeluarga. Karenanya, orangtua Laila memingitnya dalam kamamya. Beberapa sahabatLaila diizinkan untuk mengunjunginya, tetapi ia tidak ingin ditemani. Iaberpaling kedalam hatinya, memelihara api cinta yang membakar dalam kalbunya.Untuk mengungkapkan segenap perasaannya yang terdalam, ia menulis dan menggubahsyair kepada kekasihnya pada potongan-potongan kertas kecil. Kemudian, ketika iadiperbolehkan menyendiri di taman, ia pun menerbangkan potongan-potongan kertaskecil ini dalam hembusan angin. Orang-orang yang menemukan syair-syair dalampotongan-potongan kertas kecil itu membawanya kepada Majnun. Dengan carademikian, dua kekasih itu masih bisa menjalin hubungan.
Karena Majnun sangat terkenal di seluruh negeri, banyak orang datangmengunjunginya. Namun, mereka hanya berkunjung sebentar saja, karena mereka tahubahwa Majnun tidak kuat lama dikunjungi banyak orang. Mereka mendengarkannyamelantunkan syair-syair indah dan memainkan serulingnya dengan sangat memukau.
Sebagian orang merasa iba kepadanya; sebagian lagi hanya sekadar ingin tahutentang kisahnya. Akan tetapi, setiap orang mampu merasakan kedalaman cinta dankasih sayangnya kepada semua makhluk. Salah seorang dari pengunjung itu adalahseorang ksatria gagah berani bernama ‘Amar, yang berjumpa dengan Majnun dalamperjalanannya menuju Mekah. Meskipun ia sudah mendengar kisah cinta yang sangatterkenal itu di kotanya, ia ingin sekali mendengarnya dari mulut Majnun sendiri.
Drama kisah tragis itu membuatnya sedemikian pilu dan sedih sehingga iabersumpah dan bertekad melakukan apa saja yang mungkin untuk mempersatukan duakekasih itu, meskipun ini berarti menghancurkan orang-orang yang menghalanginya!Kaetika Amr kembali ke kota kelahirannya, Ia pun menghimpun pasukannya. Pasukanini berangkat menuju desa Laila dan menggempur suku di sana tanpa ampun. Banyakorang yang terbunuh atau terluka.
Ketika pasukan ‘Amr hampir memenangkan pertempuran, ayah Laila mengirimkanpesan kepada ‘Amr, “Jika engkau atau salah seorang dari prajuritmu menginginkanputriku, aku akan menyerahkannya tanpa melawan. Bahkan, jika engkau inginmembunuhnya, aku tidak keberatan. Namun, ada satu hal yang tidak akan pernahbisa kuterima, jangan minta aku untuk memberikan putriku pada orang gila itu”.Majnun mendengar pertempuran itu hingga ia bergegas kesana. Di medanpertempuran, Majnun pergi ke sana kemari dengan bebas di antara para prajuritdan menghampiri orang-orang yang terluka dari suku Laila. Ia merawat merekadengan penuh perhatian dan melakukan apa saja untuk meringankan luka mereka.
Amr pun merasa heran kepada Majnun, ketika ia meminta penjelasan ihwal mengapaia membantu pasukan musuh, Majnun menjawab, “Orang-orang ini berasal dari desakekasihku. Bagaimana mungkin aku bisa menjadi musuh mereka?” Karena sedemikianbersimpati kepada Majnun, ‘Amr sama sekali tidak bisa memahami hal ini. Apa yangdikatakan ayah Laila tentang orang gila ini akhirnya membuatnya sadar. Ia punmemerintahkan pasukannya untuk mundur dan segera meninggalkan desa itu tanpamengucapkan sepatah kata pun kepada Majnun.
Laila semakin merana dalam penjara kamarnya sendiri. Satu-satunya yang bisa ianikmati adalah berjalan-jalan di taman bunganya. Suatu hari, dalam perjalanannyamenuju taman, Ibn Salam, seorang bangsawan kaya dan berkuasa, melihat Laila danserta-merta jatuh cinta kepadanya. Tanpa menunda-nunda lagi, ia segera mencariayah Laila. Merasa lelah dan sedih hati karena pertempuran yang baru sajamenimbulkan banyak orang terluka di pihaknya, ayah Laila pun menyetujuiperkawinan itu.
Tentu saja, Laila menolak keras. Ia mengatakan kepada ayahnya, “Aku lebihsenang mati ketimbang kawin dengan orang itu.” Akan tetapi, tangisan danpermohonannya tidak digubris. Lantas ia mendatangi ibunya, tetapi sama sajakeadaannya. Perkawinan pun berlangsung dalam waktu singkat. Orangtua Lailamerasa lega bahwa seluruh cobaan berat akhirnya berakhir juga.
Akan tetapi, Laila menegaskan kepada suaminya bahwa ia tidak pernah bisamencintainya. “Aku tidak akan pernah menjadi seorang istri,” katanya. “Karenaitu, jangan membuang-buang waktumu. Carilah seorang istri yang lain. Aku yakin,masih ada banyak wanita yang bisa membuatmu bahagia.” Sekalipun mendengarkata-kata dingin ini, Ibn Salam percaya bahwa, sesudah hidup bersamanya beberapawaktu larnanya, pada akhirnya Laila pasti akan menerimanya. Ia tidak mau memaksaLaila, melainkan menunggunya untuk datang kepadanya.
Ketika kabar tentang perkawinan Laila terdengar oleh Majnun, ia menangis danmeratap selama berhari-hari. Ia melantunkan lagu-Iagu yang demikian menyayathati dan mengharu biru kalbu sehingga semua orang yang mendengarnya pun ikutmenangis. Derita dan kepedihannya begitu berat sehingga binatang-binatang yangberkumpul di sekelilinginya pun turut bersedih dan menangis. Namun, kesedihannyaini tak berlangsung lama, sebab tiba-tiba Majnun merasakan kedamaian danketenangan batin yang aneh. Seolah-olah tak terjadi apa-apa, ia pun terustinggal di reruntuhan itu. Perasaannya kepada Laila tidak berubah dan malahmenjadi semakin lebih dalam lagi.
Dengan penuh ketulusan, Majnun menyampaikan ucapan selamat kepada Laila atasperkawinannya: “Semoga kalian berdua selalu berbahagia di dunia ini. Aku hanyameminta satu hal sebagai tanda cintamu, janganlah engkau lupakan namaku,sekalipun engkau telah memilih orang lain sebagai pendampingmu. Janganlah pernahlupa bahwa ada seseorang yang, meskipun tubuhnya hancur berkeping-keping, hanyaakan memanggil-manggil namamu, Laila”.
Sebagai jawabannya, Laila mengirimkan sebuah anting-anting sebagai tandapengabdian tradisional. Dalam surat yang disertakannya, ia mengatakan, “Dalamhidupku, aku tidak bisa melupakanmu barang sesaat pun. Kupendam cintaku demikianlama, tanpa mampu menceritakannya kepada siapapun. Engkau memaklumkan cintamuke seluruh dunia, sementara aku membakarnya di dalam hatiku, dan engkaumembakar segala sesuatu yang ada di sekelilingmu” . “Kini, aku harusmenghabiskan hidupku dengan seseorang, padahal segenap jiwaku menjadi milikorang lain. Katakan kepadaku, kasih, mana di antara kita yang lebih dimabukcinta, engkau ataukah aku?.
Tahun demi tahun berlalu, dan orang-tua Majnun pun meninggal dunia. Ia tetaptinggal di reruntuhan bangunan itu dan merasa lebih kesepian ketimbangsebelumnya. Di siang hari, ia mengarungi gurun sahara bersama sahabat-sahabatbinatangnya. Di malam hari, ia memainkan serulingnya dan melantunkansyair-syairnya kepada berbagai binatang buas yang kini menjadi satu-satunyapendengarnya. Ia menulis syair-syair untuk Laila dengan ranting di atas tanah.Selang beberapa lama, karena terbiasa dengan cara hidup aneh ini, ia mencapaikedamaian dan ketenangan sedemikian rupa sehingga tak ada sesuatu pun yangsanggup mengusik dan mengganggunya.
Sebaliknya, Laila tetap setia pada cintanya. Ibn Salam tidak pernah berhasilmendekatinya. Kendatipun ia hidup bersama Laila, ia tetap jauh darinya. Berliandan hadiah-hadiah mahal tak mampu membuat Laila berbakti kepadanya. Ibn Salamsudah tidak sanggup lagi merebut kepercayaan dari istrinya. Hidupnya serasapahit dan sia-sia. Ia tidak menemukan ketenangan dan kedamaian di rumahnya.Laila dan Ibn Salam adalah dua orang asing dan mereka tak pernah merasakanhubungan suami istri. Malahan, ia tidak bisa berbagi kabar tentang dunia luardengan Laila.
Tak sepatah kata pun pernah terdengar dari bibir Laila, kecuali bila iaditanya. Pertanyaan ini pun dijawabnya dengan sekadarnya saja dan sangatsingkat. Ketika akhirnya Ibn Salam jatuh sakit, ia tidak kuasa bertahan, sebabhidupnya tidak menjanjikan harapan lagi. Akibatnya, pada suatu pagi di musimpanas, ia pun meninggal dunia. Kematian suaminya tampaknya makin mengaduk-ngadukperasaan Laila. Orang-orang mengira bahwa ia berkabung atas kematian Ibn Salam,padahal sesungguhnya ia menangisi kekasihnya, Majnun yang hilang dan sudah lamadirindukannya.
Selama bertahun-tahun, ia menampakkan wajah tenang, acuh tak acuh, dan hanyasekali saja ia menangis. Kini, ia menangis keras dan lama atas perpisahannyadengan kekasih satu-satunya. Ketika masa berkabung usai, Laila kembali ke rumahayahnya. Meskipun masih berusia muda, Laila tampak tua, dewasa, dan bijaksana,yang jarang dijumpai pada diri wanita seusianya. Semen tara api cintanya makinmembara, kesehatan Laila justru memudar karena ia tidak lagi memperhatikandirinya sendiri. Ia tidak mau makan dan juga tidak tidur dengan baik selamabermalam-malam.
Bagaimana ia bisa memperhatikan kesehatan dirinya kalau yang dipikirkannyahanyalah Majnun semata? Laila sendiri tahu betul bahwa ia tidak akan sanggupbertahan lama. Akhirnya, penyakit batuk parah yang mengganggunya selama beberapabulan pun menggerogoti kesehatannya. Ketika Laila meregang nyawa dan sekarat, iamasih memikirkan Majnun. Ah, kalau saja ia bisa berjumpa dengannya sekali lagiuntuk terakhir kalinya! Ia hanya membuka matanya untuk memandangi pintukalau-kalau kekasihnya datang. Namun, ia sadar bahwa waktunya sudah habis dan iaakan pergi tanpa berhasil mengucapkan salam perpisahan kepada Majnun. Pada suatumalam di musim dingin, dengan matanya tetap menatap pintu, ia pun meninggaldunia dengan tenang sambil bergumam, Majnun…Majnun. .Majnun.
Kabar tentang kematian Laila menyebar ke segala penjuru negeri dan, tak lamakemudian, berita kematian Lailapun terdengar oleh Majnun. Mendengar kabar itu,ia pun jatuh pingsan di tengah-tengah gurun sahara dan tetap tak sadarkan diriselama beberapa hari. Ketika kembali sadar dan siuman, ia segera pergi menujudesa Laila. Nyaris tidak sanggup berjalan lagi, ia menyeret tubuhnya di atastanah. Majnun bergerak terus tanpa henti hingga tiba di kuburan Laila di luarkota . Ia berkabung dikuburannya selama beberapa hari.
Ketika tidak ditemukan cara lain untuk meringankan beban penderitaannya,per1ahan-lahan ia meletakkan kepalanya di kuburan Laila kekasihnya dan meninggaldunia dengan tenang. Jasad Majnun tetap berada di atas kuburan Laila selamasetahun. Belum sampai setahun peringatan kematiannya ketika segenap sahabat dankerabat menziarahi kuburannya, mereka menemukan sesosok jasad terbujur di ataskuburan Laila. Beberapa teman sekolahnya mengenali dan mengetahui bahwa ituadalah jasad Majnun yang masih segar seolah baru mati kemarin. Ia pun dikubur disamping Laila. Tubuh dua kekasih itu, yang kini bersatu dalam keabadian, kinibersatu kembali.
Konon, tak lama sesudah itu, ada seorang Sufi bermimpi melihat Majnun hadirdi hadapan Tuhan. Allah swt membelai Majnun dengan penuh kasih sayang danmendudukkannya disisi-Nya.Lalu, Tuhan pun berkata kepada Majnun, “Tidakkahengkau malu memanggil-manggil- Ku dengan nama Laila, sesudah engkau meminumanggur Cinta-Ku?”
Sang Sufi pun bangun dalam keadaan gelisah. Jika Majnun diperlakukan dengansangat baik dan penuh kasih oleh Allah Subhana wa ta’alaa, ia punbertanya-tanya, lantas apa yang terjadi pada Laila yang malang ? Begitu pikiranini terlintas dalam benaknya, Allah swt pun mengilhamkan jawaban kepadanya,“Kedudukan Laila jauh lebih tinggi, sebab ia menyembunyikan segenap rahasiaCinta dalam dirinya sendiri.”
Wa min Allah at Tawfiq
Diambil dari Negeri Sufi ( Tales from The Land of Sufis )
Tentang Penulis Laila Majnun, Syaikh Sufi Mawlana Hakim Nizhami qs :
Syaikh Hakim Nizhami qs merupakan penulis sufi terkemuka diabad pertengahankarena dua roman cinta yang menyayat hati, yaitu Laila & Majnun serta Khusrau &Syirin. Kisah sedih Laila & Majnun , dimana Majnun yang berarti “Tergila-gilaakan Cinta”, karena cintanya yang tak sampai pada Laila, akhirnya membuatnyagila. Kisah cinta ini dibaca selama berabad-abad, ratusan tahun jauh sebelumRomeo & Julietnya Wiliam Shakespeare sehingga Kisah Laila & Majnun terkenalsebagai kisah cintanya Persia .
Syaikh Nizhami qs adalah seorang Syaikh Sufi, dan yang dimaksud “kekasih”dalam berbagai kisahnya sesungguhnya adalah perwujudan Allah swt. SyaikhNizhami hidup dari tahun 1155 M – 1223 M, beliau lahir dikota Ganje diAzerbaijan. Ia telah menempuh jalan sufi semenjak masa mudanya, dan ia diajaroleh Nabi Khidir as, Sang Pembimbing Misterius dan ia dilindungi 99 Nama AllahYang Maha Indah ( Asmaul Husna).
Syaikh Nizhami qs sangat menguasai berbagai macam ilmu, seperti matematika,filsafat, Hukum Islam, dan kedokteran. Banyak karyanya merupakan pelajarantersembunyi bagi pemeluk tariqah sufi dan penempuh jalan spiritual. Karya SyaikhNizhami qs terkenal karena bahasanya yang halus. Karya Laila dan Majnunsebenarnya berbentuk sajak berirama sebanyak 4500 syair sajak, yang dikenaldengan sebutan Matsnawi. Sebagaimana lazimnya terjadi pada para Syaikh Sufi,yang tertinggal dari Syaikh Nizhami qs adalah ajaran-ajaran sufi yang sangattinggi.
Mereka pun bersujud kepada Tuhan, sambil berurai air mata dari relung hati mereka yang terluka. “Wahai Segala Kekasih, jangan biarkan pohon kami tak berbuah. Izinkan kami merasakan manisnya menimang anak dalam pelukan kami. Anugerahkan kepada kami tanggung jawab untuk membesarkan seorang manusia yang baik. Berikan kesempatan kepada kami untuk membuat-Mu bangga akan anak kami.”
Tak lama kemudian, doa mereka dikabulkan, dan Tuhan menganugerahi mereka seorang anak laki-laki yang diberi nama Qais. Sang ayah sangat berbahagia, sebab Qais dicintai oleh semua orang. Ia tampan, bermata besar, dan berambut hitam, yang menjadi pusat perhatian dan kekaguman. Sejak awal, Qais telahmemperlihatkan kecerdasan dan kemampuan fisik istimewa. Ia punya bakat luar biasa dalam mempelajari seni berperang dan memainkan musik, menggubah syair dan melukis.
Ketika sudah cukup umur untuk masuk sekolah, ayahnya memutuskan membangun sebuah sekolah yang indah dengan guru-guru terbaik di Arab yang mengajar di sana , dan hanya beberapa anak saja yang belajar di situ. Anak-anak lelaki dan perempuan dan keluarga terpandang di seluruh jazirah Arab belajar di sekolah baru ini.
Di antara mereka ada seorang anak perempuan dari kepala suku tetangga. Seorang gadis bermata indah, yang memiliki kecantikan luar biasa. Rambut dan matanya sehitam malam; karena alasan inilah mereka menyebutnya Laila-”Sang Malam”. Meski ia baru berusia dua belas tahun, sudah banyak pria melamarnya untuk dinikahi, sebab-sebagaimana lazimnya kebiasaan di zaman itu, gadis-gadis sering dilamar pada usia yang masih sangat muda, yakni sembilan tahun.
Laila dan Qais adalah teman sekelas. Sejak hari pertama masuk sekolah, mereka sudah saling tertarik satu sama lain. Seiring dengan berlalunya waktu, percikan ketertarikan ini makin lama menjadi api cinta yang membara. Bagi mereka berdua, sekolah bukan lagi tempat belajar. Kini, sekolah menjadi tempat mereka saling bertemu. Ketika guru sedang mengajar, mereka saling berpandangan. Ketika tibawaktunya menulis pelajaran, mereka justru saling menulis namanya di atas kertas. Bagi mereka berdua, tak ada teman atau kesenangan lainnya. Dunia kini hanyalah milik Qais dan Laila.
Mereka buta dan tuli pada yang lainnya. Sedikit demi sedikit, orang-orang mulai mengetahui cinta mereka, dan gunjingan-gunjingan pun mulai terdengar. Di zaman itu, tidaklah pantas seorang gadis dikenal sebagai sasaran cinta seseorang dan sudah pasti mereka tidak akan menanggapinya. Ketika orang-tua Laila mendengar bisik-bisik tentang anak gadis mereka, mereka pun melarangnya pergi ke sekolah. Mereka tak sanggup lagi menahan beban malu pada masyarakat sekitar.
Ketika Laila tidak ada di ruang kelas, Qais menjadi sangat gelisah sehingga ia meninggalkan sekolah dan menyelusuri jalan-jalan untuk mencari kekasihnya dengan memanggil-manggil namanya. Ia menggubah syair untuknya dan membacakannya di jalan-jalan. Ia hanya berbicara tentang Laila dan tidak juga menjawab pertanyaan orang-orang kecuali bila mereka bertanya tentang Laila. Orang-orang pun tertawa dan berkata, ” Lihatlah Qais , ia sekarang telah menjadi seorang majnun, gila!”
Akhirnya, Qais dikenal dengan nama ini, yakni “Majnun”. Melihat orang-orang dan mendengarkan mereka berbicara membuat Majnun tidak tahan. Ia hanya ingin melihat dan berjumpa dengan Laila kekasihnya. Ia tahu bahwa Laila telah dipingit oleh orang tuanya di rumah, yang dengan bijaksana menyadari bahwa jika Laila dibiarkan bebas bepergian, ia pasti akan menjumpai Majnun. Majnun menemukan sebuah tempat di puncak bukit dekat desa Laila dan membangun sebuah gubuk untuk dirinya yang menghadap rumah Laila. Sepanjang hari Majnunduduk-duduk di depan gubuknya, disamping sungai kecil berkelok yang mengalir ke bawah menuju desa itu. Ia berbicara kepada air, menghanyutkan dedaunan bunga liar, dan Majnun merasa yakin bahwa sungai itu akan menyampaikan pesan cintanya kepada Laila. Ia menyapa burung-burung dan meminta mereka untuk terbang kepada Laila serta memberitahunya bahwa ia dekat.
Ia menghirup angin dari barat yang melewati desa Laila. Jika kebetulan ada seekor anjing tersesat yang berasal dari desa Laila, ia pun memberinya makan dan merawatnya, mencintainya seolah-olah anjing suci, menghormatinya dan menjaganya sampai tiba saatnya anjing itu pergi jika memang mau demikian. Segala sesuatu yang berasal dari tempat kekasihnya dikasihi dan disayangi sama seperti kekasihnya sendiri.
Bulan demi bulan berlalu dan Majnun tidak menemukan jejak Laila. Kerinduannya kepada Laila demikian besar sehingga ia merasa tidak bisa hidup sehari pun tanpa melihatnya kembali. Terkadang sahabat-sahabatnya di sekolah dulu datang mengunjunginya, tetapi ia berbicara kepada mereka hanya tentang Laila, tentang betapa ia sangat kehilangan dirinya.
Suatu hari, tiga anak laki-laki, sahabatnya yang datang mengunjunginya demikian terharu oleh penderitaan dan kepedihan Majnun sehingga mereka bertekad embantunya untuk berjumpa kembali dengan Laila. Rencana mereka sangat cerdik. Esoknya, mereka dan Majnun mendekati rumah Laila dengan menyamar sebagai wanita. Dengan mudah mereka melewati wanita-wanita pembantu dirumah Laila dan berhasil masuk ke pintu kamarnya.
Majnun masuk ke kamar, sementara yang lain berada di luar berjaga-jaga. Sejak ia berhenti masuk sekolah, Laila tidak melakukan apapun kecuali memikirkan Qais. Yang cukup mengherankan, setiap kali ia mendengar burung-burung berkicau dari jendela atau angin berhembus semilir, ia memejamkan.matanya sembari membayangkan bahwa ia mendengar suara Qais didalamnya. Ia akan mengambil dedaunan dan bunga yang dibawa oleh angin atau sungai dan tahu bahwa semuanya itu berasal dari Qais. Hanya saja, ia tak pernah berbicara kepada siapa pun, bahkan juga kepada sahabat-sahabat terbaiknya, tentang cintanya.
Pada hari ketika Majnun masuk ke kamar Laila, ia merasakan kehadiran dan kedatangannya. Ia mengenakan pakaian sutra yang sangat bagus dan indah. Rambutnya dibiarkan lepas tergerai dan disisir dengan rapi di sekitar bahunya. Matanya diberi celak hitam, sebagaimana kebiasaan wanita Arab, dengan bedak hitam yang disebut surmeh. Bibirnya diberi lipstick merah, dan pipinya yang kemerah-merahan tampak menyala serta menampakkan kegembiraannya. Ia duduk di depan pintu dan menunggu.
Ketika Majnun masuk, Laila tetap duduk. Sekalipun sudah diberitahu bahwa Majnun akan datang, ia tidak percaya bahwa pertemuan itu benar-benar terjadi.Majnun berdiri di pintu selama beberapa menit, memandangi, sepuas-puasnya wajahLaila. Akhirnya, mereka bersama lagi! Tak terdengar sepatah kata pun, kecualidetak jantung kedua orang yang dimabuk cinta ini. Mereka saling berpandangan danlupa waktu.
Salah seorang wanita pembantu di rumah itu melihat sahabat-sahabat Majnun diluar kamar tuan putrinya. Ia mulai curiga dan memberi isyarat kepada salahseorang pengawal. Namun, ketika ibu Laila datang menyelidiki, Majnun dankawan-kawannya sudah jauh pergi. Sesudah orang-tuanya bertanya kepada Laila,maka tidak sulit bagi mereka mengetahui apa yang telah terjadi. Kebisuan dankebahagiaan yang terpancar dimatanya menceritakan segala sesuatunya.
Sesudah terjadi peristiwa itu, ayah Laila menempatkan para pengawal di setiappintu di rumahnya. Tidak ada jalan lain bagi Majnun untuk menghampiri rumahLaila, bahkandari kejauhan sekalipun. Akan tetapi jika ayahnya berpikiran bahwa, denganbertindak hati-hati ini ia bisa mengubah perasaan Laila dan Majnun, satu samalain, sungguh ia salah besar.
Ketika ayah Majnun tahu tentang peristiwa di rumah Laila, ia memutuskan untukmengakhiri drama itu dengan melamar Laila untuk anaknya. Ia menyiapkan sebuahkafilah penuh dengan hadiah dan mengirimkannya ke desa Laila. Sang tamu pundisambut dengan sangat baik, dan kedua kepala suku itu berbincang-bincangtentang kebahagiaan anak-anak mereka. Ayah Majnun lebih dulu berkata, “Engkautahu benar, kawan, bahwa ada dua hal yang sangat penting bagi kebahagiaan, yaitu“Cinta dan Kekayaan”.
Anak lelakiku mencintai anak perempuanmu, dan aku bisa memastikan bahwa akusanggup memberi mereka cukup banyak uang untuk mengarungi kehidupan yang bahagiadan menyenangkan. Mendengar hal itu, ayah Laila pun menjawab, “Bukannya akumenolak Qais. Aku percaya kepadamu, sebab engkau pastilah seorang mulia danterhormat,” jawab ayah Laila. “Akan tetapi, engkau tidak bisa menyalahkankukalau aku berhati-hati dengan anakmu. Semua orang tahu perilaku abnormalnya.Ia berpakaian seperti seorang pengemis. Ia pasti sudah lama tidak mandi daniapun hidup bersama hewan-hewan dan menjauhi orang banyak. “Tolong katakankawan, jika engkau punya anak perempuan dan engkau berada dalam posisiku,akankah engkau memberikan anak perempuanmu kepada anakku?”
Ayah Qais tak dapat membantah. Apa yang bisa dikatakannya? Padahal, duluanaknya adalah teladan utama bagi kawan-kawan sebayanya? Dahulu Qais adalah anakyang paling cerdas dan berbakat di seantero Arab? Tentu saja, tidak ada yangdapat dikatakannya. Bahkan, sang ayahnya sendiri susah untuk mempercayainya.Sudah lama orang tidak mendengar ucapan bermakna dari Majnun. “Aku tidak akandiam berpangku tangan dan melihat anakku menghancurkan dirinya sendiri,”pikirnya. “Aku harus melakukan sesuatu.”
Ketika ayah Majnun kembali pulang, ia menjemput anaknya, Ia mengadakan pestamakan malam untuk menghormati anaknya. Dalam jamuan pesta makan malam itu,gadis-gadis tercantik di seluruh negeri pun diundang. Mereka pasti bisamengalihkan perhatian Majnun dari Laila, pikir ayahnya. Di pesta itu, Majnundiam dan tidak mempedulikan tamu-tamu lainnya. Ia duduk di sebuah sudut ruangansambil melihat gadis-gadis itu hanya untuk mencari pada diri mereka berbagaikesamaan dengan yang dimiliki Laila.
Seorang gadis mengenakan pakaian yang sama dengan milik Laila; yang lainnyapunya rambut panjang seperti Laila, dan yang lainnya lagi punya senyum miripLaila. Namun, tak ada seorang gadis pun yang benar-benar mirip dengannya,Malahan, tak ada seorang pun yang memiliki separuh kecantikan Laila. Pesta ituhanya menambah kepedihan perasaan Majnun saja kepada kekasihnya. Ia pun berangdan marah serta menyalahkan setiap orang di pesta itu lantaran berusahamengelabuinya.
Dengan berurai air mata, Majnun menuduh orang-tuanya dan sahabat-sahabatnyasebagai berlaku kasar dan kejam kepadanya. Ia menangis sedemikian hebat hinggaakhirnya jatuh ke lantai dalam keadaan pingsan. Sesudah terjadi petaka ini,ayahnya memutuskan agar Qais dikirim untuk menunaikan ibadah haji ke Mekahdengan harapan bahwa Allah akan merahmatinya dan membebaskannya dari cinta yangmenghancurkan ini.
Di Makkah, untuk menyenangkan ayahnya, Majnun bersujud di depan altar Kabah,tetapi apa yang ia mohonkan? “Wahai Yang Maha Pengasih, Raja Diraja ParaPecinta, Engkau yang menganugerahkan cinta, aku hanya mohon kepada-Mu satu halsaja,”Tinggikanlah cintaku sedemikian rupa sehingga, sekalipun aku binasa,cintaku dan kekasihku tetap hidup.” Ayahnya kemudian tahu bahwa tak ada lagiyang bisa ia lakukan untuk anaknya.
Usai menunaikan ibadah haji, Majnun yang tidak mau lagi bergaul dengan orangbanyak di desanya, pergi ke pegunungan tanpa memberitahu di mana ia berada. Iatidak kembali ke gubuknya. Alih-alih tinggal dirumah, ia memilih tinggaldireruntuhan sebuah bangunan tua yang terasing dari masyarakat dan tinggaldidalamnya. Sesudah itu, tak ada seorang pun yang mendengar kabar tentangMajnun. Orang-tuanya mengirim segenap sahabat dan keluarganya untuk mencarinya.Namun, tak seorang pun berhasil menemukannya. Banyak orang berkesimpulan bahwaMajnun dibunuh oleh binatang-binatang gurun sahara. Ia bagai hilang ditelanbumi.
Suatu hari, seorang musafir melewati reruntuhan bangunan itu dan melihat adasesosok aneh yang duduk di salah sebuah tembok yang hancur. Seorang liar denganrambut panjang hingga ke bahu, jenggotnya panjang dan acak-acakan, bajunyacompang-camping dan kumal. Ketika sang musafir mengucapkan salam dan tidakberoleh jawaban, ia mendekatinya. Ia melihat ada seekor serigala tidur dikakinya. “Hus” katanya, ‘Jangan bangunkan sahabatku.” Kemudian, ia mengedarkanpandangan ke arah kejauhan.
Sang musafir pun duduk di situ dengan tenang. Ia menunggu dan ingin tahu apayang akan terjadi. Akhimya, orang liar itu berbicara. Segera saja ia pun tahubahwa ini adalah Majnun yang terkenal itu, yang berbagai macam perilaku anehnyadibicarakan orang di seluruh jazirah Arab. Tampaknya, Majnun tidak kesulitanmenyesuaikan diri dengan kehidupan dengan binatang-binatang buas dan liar. Dalamkenyataannya, ia sudah menyesuaikan diri dengan sangat baik sehinggalumrah-lumrah saja melihat dirinya sebagai bagian dari kehidupan liar dan buasitu.
Berbagai macam binatang tertarik kepadanya, karena secara naluri mengetahuibahwa Majnun tidak akan mencelakakan mereka. Bahkan, binatang-binatang buasseperti serigala sekalipun percaya pada kebaikan dan kasih sayang Majnun. Sangmusafir itu mendengarkan Majnun melantunkan berbagai kidung pujiannya padaLaila. Mereka berbagi sepotong roti yang diberikan olehnya. Kemudian, sangmusafir itu pergi dan melanjutkan petjalanannya.
Ketika tiba di desa Majnun, ia menuturkan kisahnya pada orang-orang. Akhimya,sang kepala suku, ayah Majnun, mendengar berita itu. Ia mengundang sang musafirke rumahnya dan meminta keteransran rinci darinya. Merasa sangat gembira danbahagia bahwa Majnun masih hidup, ayahnya pergi ke gurun sahara untukmenjemputnya.
Ketika melihat reruntuhan bangunan yang dilukiskan oleh sang musafir itu, ayahMajnun dicekam oleh emosi dan kesedihan yang luar biasa. Betapa tidak! Anaknyaterjerembab dalam keadaan mengenaskan seperti ini. “Ya Tuhanku, aku mohon agarEngkau menyelamatkan anakku dan mengembalikannya ke keluarga kami,” jerit sangayah menyayat hati. Majnun mendengar doa ayahnya dan segera keluar dari tempatpersembunyiannya. Dengan bersimpuh dibawah kaki ayahnya, ia pun menangis, “Wahaiayah, ampunilah aku atas segala kepedihan yang kutimbulkan pada dirimu. Tolonglupakan bahwa engkau pernah mempunyai seorang anak, sebab ini akan meringankanbeban kesedihan ayah. Ini sudah nasibku mencinta, dan hidup hanya untukmencinta.” Ayah dan anak pun saling berpelukan dan menangis. Inilah pertemuanterakhir mereka.
Keluarga Laila menyalahkan ayah Laila lantaran salah dan gagal menanganisituasi putrinya. Mereka yakin bahwa peristiwa itu telah mempermalukan seluruhkeluarga. Karenanya, orangtua Laila memingitnya dalam kamamya. Beberapa sahabatLaila diizinkan untuk mengunjunginya, tetapi ia tidak ingin ditemani. Iaberpaling kedalam hatinya, memelihara api cinta yang membakar dalam kalbunya.Untuk mengungkapkan segenap perasaannya yang terdalam, ia menulis dan menggubahsyair kepada kekasihnya pada potongan-potongan kertas kecil. Kemudian, ketika iadiperbolehkan menyendiri di taman, ia pun menerbangkan potongan-potongan kertaskecil ini dalam hembusan angin. Orang-orang yang menemukan syair-syair dalampotongan-potongan kertas kecil itu membawanya kepada Majnun. Dengan carademikian, dua kekasih itu masih bisa menjalin hubungan.
Karena Majnun sangat terkenal di seluruh negeri, banyak orang datangmengunjunginya. Namun, mereka hanya berkunjung sebentar saja, karena mereka tahubahwa Majnun tidak kuat lama dikunjungi banyak orang. Mereka mendengarkannyamelantunkan syair-syair indah dan memainkan serulingnya dengan sangat memukau.
Sebagian orang merasa iba kepadanya; sebagian lagi hanya sekadar ingin tahutentang kisahnya. Akan tetapi, setiap orang mampu merasakan kedalaman cinta dankasih sayangnya kepada semua makhluk. Salah seorang dari pengunjung itu adalahseorang ksatria gagah berani bernama ‘Amar, yang berjumpa dengan Majnun dalamperjalanannya menuju Mekah. Meskipun ia sudah mendengar kisah cinta yang sangatterkenal itu di kotanya, ia ingin sekali mendengarnya dari mulut Majnun sendiri.
Drama kisah tragis itu membuatnya sedemikian pilu dan sedih sehingga iabersumpah dan bertekad melakukan apa saja yang mungkin untuk mempersatukan duakekasih itu, meskipun ini berarti menghancurkan orang-orang yang menghalanginya!Kaetika Amr kembali ke kota kelahirannya, Ia pun menghimpun pasukannya. Pasukanini berangkat menuju desa Laila dan menggempur suku di sana tanpa ampun. Banyakorang yang terbunuh atau terluka.
Ketika pasukan ‘Amr hampir memenangkan pertempuran, ayah Laila mengirimkanpesan kepada ‘Amr, “Jika engkau atau salah seorang dari prajuritmu menginginkanputriku, aku akan menyerahkannya tanpa melawan. Bahkan, jika engkau inginmembunuhnya, aku tidak keberatan. Namun, ada satu hal yang tidak akan pernahbisa kuterima, jangan minta aku untuk memberikan putriku pada orang gila itu”.Majnun mendengar pertempuran itu hingga ia bergegas kesana. Di medanpertempuran, Majnun pergi ke sana kemari dengan bebas di antara para prajuritdan menghampiri orang-orang yang terluka dari suku Laila. Ia merawat merekadengan penuh perhatian dan melakukan apa saja untuk meringankan luka mereka.
Amr pun merasa heran kepada Majnun, ketika ia meminta penjelasan ihwal mengapaia membantu pasukan musuh, Majnun menjawab, “Orang-orang ini berasal dari desakekasihku. Bagaimana mungkin aku bisa menjadi musuh mereka?” Karena sedemikianbersimpati kepada Majnun, ‘Amr sama sekali tidak bisa memahami hal ini. Apa yangdikatakan ayah Laila tentang orang gila ini akhirnya membuatnya sadar. Ia punmemerintahkan pasukannya untuk mundur dan segera meninggalkan desa itu tanpamengucapkan sepatah kata pun kepada Majnun.
Laila semakin merana dalam penjara kamarnya sendiri. Satu-satunya yang bisa ianikmati adalah berjalan-jalan di taman bunganya. Suatu hari, dalam perjalanannyamenuju taman, Ibn Salam, seorang bangsawan kaya dan berkuasa, melihat Laila danserta-merta jatuh cinta kepadanya. Tanpa menunda-nunda lagi, ia segera mencariayah Laila. Merasa lelah dan sedih hati karena pertempuran yang baru sajamenimbulkan banyak orang terluka di pihaknya, ayah Laila pun menyetujuiperkawinan itu.
Tentu saja, Laila menolak keras. Ia mengatakan kepada ayahnya, “Aku lebihsenang mati ketimbang kawin dengan orang itu.” Akan tetapi, tangisan danpermohonannya tidak digubris. Lantas ia mendatangi ibunya, tetapi sama sajakeadaannya. Perkawinan pun berlangsung dalam waktu singkat. Orangtua Lailamerasa lega bahwa seluruh cobaan berat akhirnya berakhir juga.
Akan tetapi, Laila menegaskan kepada suaminya bahwa ia tidak pernah bisamencintainya. “Aku tidak akan pernah menjadi seorang istri,” katanya. “Karenaitu, jangan membuang-buang waktumu. Carilah seorang istri yang lain. Aku yakin,masih ada banyak wanita yang bisa membuatmu bahagia.” Sekalipun mendengarkata-kata dingin ini, Ibn Salam percaya bahwa, sesudah hidup bersamanya beberapawaktu larnanya, pada akhirnya Laila pasti akan menerimanya. Ia tidak mau memaksaLaila, melainkan menunggunya untuk datang kepadanya.
Ketika kabar tentang perkawinan Laila terdengar oleh Majnun, ia menangis danmeratap selama berhari-hari. Ia melantunkan lagu-Iagu yang demikian menyayathati dan mengharu biru kalbu sehingga semua orang yang mendengarnya pun ikutmenangis. Derita dan kepedihannya begitu berat sehingga binatang-binatang yangberkumpul di sekelilinginya pun turut bersedih dan menangis. Namun, kesedihannyaini tak berlangsung lama, sebab tiba-tiba Majnun merasakan kedamaian danketenangan batin yang aneh. Seolah-olah tak terjadi apa-apa, ia pun terustinggal di reruntuhan itu. Perasaannya kepada Laila tidak berubah dan malahmenjadi semakin lebih dalam lagi.
Dengan penuh ketulusan, Majnun menyampaikan ucapan selamat kepada Laila atasperkawinannya: “Semoga kalian berdua selalu berbahagia di dunia ini. Aku hanyameminta satu hal sebagai tanda cintamu, janganlah engkau lupakan namaku,sekalipun engkau telah memilih orang lain sebagai pendampingmu. Janganlah pernahlupa bahwa ada seseorang yang, meskipun tubuhnya hancur berkeping-keping, hanyaakan memanggil-manggil namamu, Laila”.
Sebagai jawabannya, Laila mengirimkan sebuah anting-anting sebagai tandapengabdian tradisional. Dalam surat yang disertakannya, ia mengatakan, “Dalamhidupku, aku tidak bisa melupakanmu barang sesaat pun. Kupendam cintaku demikianlama, tanpa mampu menceritakannya kepada siapapun. Engkau memaklumkan cintamuke seluruh dunia, sementara aku membakarnya di dalam hatiku, dan engkaumembakar segala sesuatu yang ada di sekelilingmu” . “Kini, aku harusmenghabiskan hidupku dengan seseorang, padahal segenap jiwaku menjadi milikorang lain. Katakan kepadaku, kasih, mana di antara kita yang lebih dimabukcinta, engkau ataukah aku?.
Tahun demi tahun berlalu, dan orang-tua Majnun pun meninggal dunia. Ia tetaptinggal di reruntuhan bangunan itu dan merasa lebih kesepian ketimbangsebelumnya. Di siang hari, ia mengarungi gurun sahara bersama sahabat-sahabatbinatangnya. Di malam hari, ia memainkan serulingnya dan melantunkansyair-syairnya kepada berbagai binatang buas yang kini menjadi satu-satunyapendengarnya. Ia menulis syair-syair untuk Laila dengan ranting di atas tanah.Selang beberapa lama, karena terbiasa dengan cara hidup aneh ini, ia mencapaikedamaian dan ketenangan sedemikian rupa sehingga tak ada sesuatu pun yangsanggup mengusik dan mengganggunya.
Sebaliknya, Laila tetap setia pada cintanya. Ibn Salam tidak pernah berhasilmendekatinya. Kendatipun ia hidup bersama Laila, ia tetap jauh darinya. Berliandan hadiah-hadiah mahal tak mampu membuat Laila berbakti kepadanya. Ibn Salamsudah tidak sanggup lagi merebut kepercayaan dari istrinya. Hidupnya serasapahit dan sia-sia. Ia tidak menemukan ketenangan dan kedamaian di rumahnya.Laila dan Ibn Salam adalah dua orang asing dan mereka tak pernah merasakanhubungan suami istri. Malahan, ia tidak bisa berbagi kabar tentang dunia luardengan Laila.
Tak sepatah kata pun pernah terdengar dari bibir Laila, kecuali bila iaditanya. Pertanyaan ini pun dijawabnya dengan sekadarnya saja dan sangatsingkat. Ketika akhirnya Ibn Salam jatuh sakit, ia tidak kuasa bertahan, sebabhidupnya tidak menjanjikan harapan lagi. Akibatnya, pada suatu pagi di musimpanas, ia pun meninggal dunia. Kematian suaminya tampaknya makin mengaduk-ngadukperasaan Laila. Orang-orang mengira bahwa ia berkabung atas kematian Ibn Salam,padahal sesungguhnya ia menangisi kekasihnya, Majnun yang hilang dan sudah lamadirindukannya.
Selama bertahun-tahun, ia menampakkan wajah tenang, acuh tak acuh, dan hanyasekali saja ia menangis. Kini, ia menangis keras dan lama atas perpisahannyadengan kekasih satu-satunya. Ketika masa berkabung usai, Laila kembali ke rumahayahnya. Meskipun masih berusia muda, Laila tampak tua, dewasa, dan bijaksana,yang jarang dijumpai pada diri wanita seusianya. Semen tara api cintanya makinmembara, kesehatan Laila justru memudar karena ia tidak lagi memperhatikandirinya sendiri. Ia tidak mau makan dan juga tidak tidur dengan baik selamabermalam-malam.
Bagaimana ia bisa memperhatikan kesehatan dirinya kalau yang dipikirkannyahanyalah Majnun semata? Laila sendiri tahu betul bahwa ia tidak akan sanggupbertahan lama. Akhirnya, penyakit batuk parah yang mengganggunya selama beberapabulan pun menggerogoti kesehatannya. Ketika Laila meregang nyawa dan sekarat, iamasih memikirkan Majnun. Ah, kalau saja ia bisa berjumpa dengannya sekali lagiuntuk terakhir kalinya! Ia hanya membuka matanya untuk memandangi pintukalau-kalau kekasihnya datang. Namun, ia sadar bahwa waktunya sudah habis dan iaakan pergi tanpa berhasil mengucapkan salam perpisahan kepada Majnun. Pada suatumalam di musim dingin, dengan matanya tetap menatap pintu, ia pun meninggaldunia dengan tenang sambil bergumam, Majnun…Majnun. .Majnun.
Kabar tentang kematian Laila menyebar ke segala penjuru negeri dan, tak lamakemudian, berita kematian Lailapun terdengar oleh Majnun. Mendengar kabar itu,ia pun jatuh pingsan di tengah-tengah gurun sahara dan tetap tak sadarkan diriselama beberapa hari. Ketika kembali sadar dan siuman, ia segera pergi menujudesa Laila. Nyaris tidak sanggup berjalan lagi, ia menyeret tubuhnya di atastanah. Majnun bergerak terus tanpa henti hingga tiba di kuburan Laila di luarkota . Ia berkabung dikuburannya selama beberapa hari.
Ketika tidak ditemukan cara lain untuk meringankan beban penderitaannya,per1ahan-lahan ia meletakkan kepalanya di kuburan Laila kekasihnya dan meninggaldunia dengan tenang. Jasad Majnun tetap berada di atas kuburan Laila selamasetahun. Belum sampai setahun peringatan kematiannya ketika segenap sahabat dankerabat menziarahi kuburannya, mereka menemukan sesosok jasad terbujur di ataskuburan Laila. Beberapa teman sekolahnya mengenali dan mengetahui bahwa ituadalah jasad Majnun yang masih segar seolah baru mati kemarin. Ia pun dikubur disamping Laila. Tubuh dua kekasih itu, yang kini bersatu dalam keabadian, kinibersatu kembali.
Konon, tak lama sesudah itu, ada seorang Sufi bermimpi melihat Majnun hadirdi hadapan Tuhan. Allah swt membelai Majnun dengan penuh kasih sayang danmendudukkannya disisi-Nya.Lalu, Tuhan pun berkata kepada Majnun, “Tidakkahengkau malu memanggil-manggil- Ku dengan nama Laila, sesudah engkau meminumanggur Cinta-Ku?”
Sang Sufi pun bangun dalam keadaan gelisah. Jika Majnun diperlakukan dengansangat baik dan penuh kasih oleh Allah Subhana wa ta’alaa, ia punbertanya-tanya, lantas apa yang terjadi pada Laila yang malang ? Begitu pikiranini terlintas dalam benaknya, Allah swt pun mengilhamkan jawaban kepadanya,“Kedudukan Laila jauh lebih tinggi, sebab ia menyembunyikan segenap rahasiaCinta dalam dirinya sendiri.”
Wa min Allah at Tawfiq
Diambil dari Negeri Sufi ( Tales from The Land of Sufis )
Tentang Penulis Laila Majnun, Syaikh Sufi Mawlana Hakim Nizhami qs :
Syaikh Hakim Nizhami qs merupakan penulis sufi terkemuka diabad pertengahankarena dua roman cinta yang menyayat hati, yaitu Laila & Majnun serta Khusrau &Syirin. Kisah sedih Laila & Majnun , dimana Majnun yang berarti “Tergila-gilaakan Cinta”, karena cintanya yang tak sampai pada Laila, akhirnya membuatnyagila. Kisah cinta ini dibaca selama berabad-abad, ratusan tahun jauh sebelumRomeo & Julietnya Wiliam Shakespeare sehingga Kisah Laila & Majnun terkenalsebagai kisah cintanya Persia .
Syaikh Nizhami qs adalah seorang Syaikh Sufi, dan yang dimaksud “kekasih”dalam berbagai kisahnya sesungguhnya adalah perwujudan Allah swt. SyaikhNizhami hidup dari tahun 1155 M – 1223 M, beliau lahir dikota Ganje diAzerbaijan. Ia telah menempuh jalan sufi semenjak masa mudanya, dan ia diajaroleh Nabi Khidir as, Sang Pembimbing Misterius dan ia dilindungi 99 Nama AllahYang Maha Indah ( Asmaul Husna).
Syaikh Nizhami qs sangat menguasai berbagai macam ilmu, seperti matematika,filsafat, Hukum Islam, dan kedokteran. Banyak karyanya merupakan pelajarantersembunyi bagi pemeluk tariqah sufi dan penempuh jalan spiritual. Karya SyaikhNizhami qs terkenal karena bahasanya yang halus. Karya Laila dan Majnunsebenarnya berbentuk sajak berirama sebanyak 4500 syair sajak, yang dikenaldengan sebutan Matsnawi. Sebagaimana lazimnya terjadi pada para Syaikh Sufi,yang tertinggal dari Syaikh Nizhami qs adalah ajaran-ajaran sufi yang sangattinggi.
Rabu, 12 Maret 2008
Making a pair of medieval ‘bag’ shoes
by howardelliot
Making a pair of medieval ‘bag’ shoes
This document covers the making of a make a pair of medieval hide shoes which is any shoe made from a single piece of leatherfitted to the foot. Specifically Cuarans (in Celtic), Rivelins (in Teutonic or Scottish), or sometimes referred to as bag shoes byScadians.
This is a relatively simple shoe design dating back to at least the7th century based upon finds from a bog in Ireland. Theshoes are constructed from one piece of leather stretched and gathered about the foot with thongs. The dating on these shoes arenot exact, since no datable reference artifacts were found (or recorded as being found) with them.
This is a common problem with allleather goods due to the tanning processes used and the permeable nature of the leather itself. Similar shoe designs are still in usetoday in the British Isles, Iceland, Norway, and Estonia, and the design is such that it may go farther back and be present amongstmany peoples with a strong background in hunting and animal herding.
A monk named John Eldar in 1543 described theconstruction of similar footwear by a Scottish hunter to Henry VIII in a letter.These shoes were constructed from modern tanned leather using a utility knife, a measuring tape, and a lace cutter (if you don’thave ready-made lace). If desperate you could easily get away with just using the knife. Period materials would have consisted ofuncured hide, vegetable tanned leather, and possibly Alum tanned leather (used by the invading Romans). The shoes areconstructed without a separate sole or bottom reinforcement. Evidence does point to the use of grasses and cloth substances asinterior padding and insulation. When using hides that still have fur the shoe was constructed fur side out. The general constructionof the shoe is taken in three steps. If you reverse this concept using a ¾ knap sheepskin you can make yourself a very comfortableand warm set of slippers. Construction is done in 3 steps; the cutting of the leather upper and the thongs, the cutting of the lacingslots in the leather upper, and the lacing of the shoe.On the cutting of the uppers and thongs. The upper is constructed from a ‘horse shoe’ shaped piece of leather chosen for its’flexibility and availability (3oz to 8oz). The forward end of the shoe (the curved end in figure 1) needs to have the most flexibility, socut your leather with this in mind. If the leather needs some softening I suggest chewing on it a bit (yum, yum).
The piece is sized asin figure 1.Figure 1
Pattern Dimensions:
A) Length from heel to tip of most protruding toe plus 1 to 2 inches.B) Distance from ground to ankle +-1 inch. I like just below the ankle.C) Distance around the foot at the instep.D) Distance around the foot at the ball of the foot.I like to smooth out the pattern so the width over the length of the pattern is C or D whichever is largest. The curving starts near theball of the foot. Transcribe the measurements to the leather and cut out the upper. Strong lacing will be needed for the gatheringthe shoe over the foot. So purchase a good lace material or cut it from a strong hide. The lace should be between 3/16 and 1/4 ofan inch in width. You will need about 3 feet of lace per shoe.On the cutting of the lacing slots in the leather upper. Slots are then cut around the edges of the hide starting from the center ofthe piece. Each slot should be at least 3/16ths inch in form the edge of the upper. Each slot is about 1/4 of an inch long and 1/4 toMaking a pair of medieval ‘bag’ shoesPage 2 of 33/8ths of an inch apart (the distance apart will need to be increased as the leather thickness increases). Placement of the slots ismade according to figure 2 and figure 3.Figure 2 Lacing Slot LocationsE) The distance necessary to allow a fold about the width of the heel when the heel excess is folded up.F) The distance from the heel to the instep plus 1 to 2 inches.Six ankle slots are cut evenly spaced around the ankle. The Heel excess is found (see figure 3) by butting the rear end (flat edge) ofupper together around your heel. To facilitate this butt the rear end of the hide together and tape it in place with a bit of masking tape(from the inside of the leather so as to leave no noticeable marks). A point will be created at the bottom. If this is folded up the pointwill come to the place to cut heel slot #3 and continue cutting the rest of the heel slots until the top edge of the shoe is reached.Figure 3 Determining the Heel ExcessOn the lacing of the shoe.
The final step is the lacing of the shoe together. There is no set pattern for lacing hide shoes. Thedesign and fit of the shoes can be drastically changed by the pattern of lacing in the upper (see figure 4 below). For example byrunning the lace around the edge of the shoe and gathering the leather you can make the shoe have an open face. The pattern oflacing varies according to personal taste and skill. Lacing patterns need to be experimented with for best-fit and maximum comfort.Creasing (I usually fold the leather and chew it until it keeps the fold) the leather where it gathers helps to give the shoes more form.Figure 4 Options used when lacing the vampIn general lace the shoes as follows:Making a pair of medieval ‘bag’ shoesPage 3 of 3Heel:Figure 5 Lacing the HeelVAMP (part across top of foot):Figure 6 Lacing the VampWhen the slot pair on the instep is reached continue by lacing around the edge of the upper and tie the shoe in the most comfortablefashion (figure 5).Figure 7 Lacing around the ankleBefore serious wear (Pennsic and the like) it may be a good idea to protect your mundane feet by sewing or gluing on a sole,padding the interior (a commercial insert with arch support works great), or by wearing foot coverings (socks).REFERENCES:1) Margrethe Hald, Primitive Shoes. National Museum of Denmark, Copenhagen 1972.2) Miss A.C. Metcalf and R.B. Longmore, Leather Artifacts from Vindolanda, Manchester University 1972-73. An article from amuseum publication on English medieval shoes.
Making a pair of medieval ‘bag’ shoes
This document covers the making of a make a pair of medieval hide shoes which is any shoe made from a single piece of leatherfitted to the foot. Specifically Cuarans (in Celtic), Rivelins (in Teutonic or Scottish), or sometimes referred to as bag shoes byScadians.
This is a relatively simple shoe design dating back to at least the7th century based upon finds from a bog in Ireland. Theshoes are constructed from one piece of leather stretched and gathered about the foot with thongs. The dating on these shoes arenot exact, since no datable reference artifacts were found (or recorded as being found) with them.
This is a common problem with allleather goods due to the tanning processes used and the permeable nature of the leather itself. Similar shoe designs are still in usetoday in the British Isles, Iceland, Norway, and Estonia, and the design is such that it may go farther back and be present amongstmany peoples with a strong background in hunting and animal herding.
A monk named John Eldar in 1543 described theconstruction of similar footwear by a Scottish hunter to Henry VIII in a letter.These shoes were constructed from modern tanned leather using a utility knife, a measuring tape, and a lace cutter (if you don’thave ready-made lace). If desperate you could easily get away with just using the knife. Period materials would have consisted ofuncured hide, vegetable tanned leather, and possibly Alum tanned leather (used by the invading Romans). The shoes areconstructed without a separate sole or bottom reinforcement. Evidence does point to the use of grasses and cloth substances asinterior padding and insulation. When using hides that still have fur the shoe was constructed fur side out. The general constructionof the shoe is taken in three steps. If you reverse this concept using a ¾ knap sheepskin you can make yourself a very comfortableand warm set of slippers. Construction is done in 3 steps; the cutting of the leather upper and the thongs, the cutting of the lacingslots in the leather upper, and the lacing of the shoe.On the cutting of the uppers and thongs. The upper is constructed from a ‘horse shoe’ shaped piece of leather chosen for its’flexibility and availability (3oz to 8oz). The forward end of the shoe (the curved end in figure 1) needs to have the most flexibility, socut your leather with this in mind. If the leather needs some softening I suggest chewing on it a bit (yum, yum).
The piece is sized asin figure 1.Figure 1
Pattern Dimensions:
A) Length from heel to tip of most protruding toe plus 1 to 2 inches.B) Distance from ground to ankle +-1 inch. I like just below the ankle.C) Distance around the foot at the instep.D) Distance around the foot at the ball of the foot.I like to smooth out the pattern so the width over the length of the pattern is C or D whichever is largest. The curving starts near theball of the foot. Transcribe the measurements to the leather and cut out the upper. Strong lacing will be needed for the gatheringthe shoe over the foot. So purchase a good lace material or cut it from a strong hide. The lace should be between 3/16 and 1/4 ofan inch in width. You will need about 3 feet of lace per shoe.On the cutting of the lacing slots in the leather upper. Slots are then cut around the edges of the hide starting from the center ofthe piece. Each slot should be at least 3/16ths inch in form the edge of the upper. Each slot is about 1/4 of an inch long and 1/4 toMaking a pair of medieval ‘bag’ shoesPage 2 of 33/8ths of an inch apart (the distance apart will need to be increased as the leather thickness increases). Placement of the slots ismade according to figure 2 and figure 3.Figure 2 Lacing Slot LocationsE) The distance necessary to allow a fold about the width of the heel when the heel excess is folded up.F) The distance from the heel to the instep plus 1 to 2 inches.Six ankle slots are cut evenly spaced around the ankle. The Heel excess is found (see figure 3) by butting the rear end (flat edge) ofupper together around your heel. To facilitate this butt the rear end of the hide together and tape it in place with a bit of masking tape(from the inside of the leather so as to leave no noticeable marks). A point will be created at the bottom. If this is folded up the pointwill come to the place to cut heel slot #3 and continue cutting the rest of the heel slots until the top edge of the shoe is reached.Figure 3 Determining the Heel ExcessOn the lacing of the shoe.
The final step is the lacing of the shoe together. There is no set pattern for lacing hide shoes. Thedesign and fit of the shoes can be drastically changed by the pattern of lacing in the upper (see figure 4 below). For example byrunning the lace around the edge of the shoe and gathering the leather you can make the shoe have an open face. The pattern oflacing varies according to personal taste and skill. Lacing patterns need to be experimented with for best-fit and maximum comfort.Creasing (I usually fold the leather and chew it until it keeps the fold) the leather where it gathers helps to give the shoes more form.Figure 4 Options used when lacing the vampIn general lace the shoes as follows:Making a pair of medieval ‘bag’ shoesPage 3 of 3Heel:Figure 5 Lacing the HeelVAMP (part across top of foot):Figure 6 Lacing the VampWhen the slot pair on the instep is reached continue by lacing around the edge of the upper and tie the shoe in the most comfortablefashion (figure 5).Figure 7 Lacing around the ankleBefore serious wear (Pennsic and the like) it may be a good idea to protect your mundane feet by sewing or gluing on a sole,padding the interior (a commercial insert with arch support works great), or by wearing foot coverings (socks).REFERENCES:1) Margrethe Hald, Primitive Shoes. National Museum of Denmark, Copenhagen 1972.2) Miss A.C. Metcalf and R.B. Longmore, Leather Artifacts from Vindolanda, Manchester University 1972-73. An article from amuseum publication on English medieval shoes.
Langganan:
Postingan (Atom)